Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Penyemprotan luas herbisida glyphosate oleh Israel di desa-desa perbatasan Lebanon selatan memicu kekhawatiran serius terhadap lingkungan, pertanian, dan kesehatan warga.
Sejumlah petani, termasuk Ahmad Mohammad Ismail dari Aita al-Shaab, menyebut tindakan itu sebagai kejahatan lingkungan dan kelanjutan penghancuran sektor pertanian meski sudah ada gencatan senjata sejak November 2024. Zat kimia tersebut mencemari tanah, merusak kesuburan, serta meningkatkan risiko kesehatan, sementara wilayah itu sebelumnya telah mengalami peningkatan kasus kanker sejak perang 2006.
Laporan menyebut penyemprotan dilakukan di sepanjang kawasan dekat Garis Biru dan dianggap pelanggaran terang terhadap perjanjian internasional. Kerugian sektor pertanian Lebanon selama perang mencapai sekitar 704 juta dolar AS, dan kebutuhan pemulihan diperkirakan 263 juta dolar.
Menteri Pertanian Lebanon Nizar Hani menyatakan uji laboratorium memastikan bahan yang digunakan adalah glyphosate dengan konsentrasi 30-50 kali di atas normal, yang menghancurkan vegetasi, mencemari air, serta mengganggu keseimbangan ekosistem termasuk lebah dan ternak.
Aktivis lingkungan menyebut tindakan itu sebagai “genosida ekologis” yang bertujuan menjadikan wilayah tersebut zona mati dan mencegah kembalinya penduduk. Warga tidak dapat mengakses lahan mereka karena risiko serangan, sementara banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan, terutama dari sektor zaitun dan tembakau.
Your Comment